Kepemimpinan Pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pemimpin merupakan sosok yang sangat  penting dalam sebuah organisasi. Sekolah adalah salah satu organisasi formal sehingga diperlukannya suatu kepemimpinan dalam sekolah. Sekolah merupakan organisasi yang terdiri dari terdiri dari unsur tujuan, sekumpulan orang, serta adanya hierarki kewenangan. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta menggerakan orang-orang yang ada dalam oranisasi tersebut maka diperlukannya suatu kepemimpinan. Karena tanpa kepemimpinan suatu organisasi tidak akan berjalan.
Kepemimpinan atau leadership menurut Karby1 berarti membimbing, artinya proces of managing organization, yaitu proses yang berlangsung dalam pengendalian organisasi.
Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktifitas anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.
Berdasarkan pengertian yang telah dijelaskan, kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam suatu organisasi. Karena kepemimpinan merupakan hal yang penting maka disini akan dipaparkan mengenai kepemimpinana khususnya dalam bidang pendidikan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Tujuan, Fungsi, dan Tugas kepemimpinan Kependidikan?
2.      Bagaimana syarat-syarat menjadi pemimpin yang baik?
3.      Bagaimana gaya-gaya yang digunakan pemimpin untuk memimpin suatu organisasi?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui tujuan, fungsi dan tugas kepemimpinan kependidikan.
2.      Untuk mengetahui syarat-syarat menjadi pemimpin.
3.      Untuk mengetahui gaya-gaya apa saja yang digunakan dalam memimpin.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kepemimpinan Pendidikan
        Kepemimpinan atau ledership adalah  setiap sumbangan terhadap terwujudnya dan tercapainya tujuan-tujuan kelompok/ golongan. Dengan kata lain “ kepemimpinan “ adalah tindakan atau perbuatan diantara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan baik seorangmaupun kelompok, maju kearah tujuan-tujuan tertentu.[1]
Kepemimpinan akan tampak ketika proses dimana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi, atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan orang lain ataupun kelompok. 
        Dalam proses mempengaruhi, pengaruh-pengaruh dari kepemimpinan dapat dibedakan kedalam dua jenis yaitu : Kepemimpinan tidak langsung (indirect leadership) dan Kepemimpinan langsung (direct leadership)
        Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorag dengan segenap kemampuannya untuk memepengaruhi, mendorong, mengarahkan, dan menggerakkan  orang-orang yang dipimpin agar mau bekerja  untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan dari sebuah organisasi.
         Kepemimpinan dapat muncul kapan dan dimanapun apabila terdapat usur-unsur sebagai berikut:
1.      Ada orang yang memimpin, mempegaruhi, dan memeri bimbingan.
2.      Ada orang yang dipengaruhi ata pengikut, seperti anggota organisasi bawahan maupun kelompok yang mau dikendalikan.
3.      Adanya kegiatan tertentu dalam meggerakkan bawahan untuk mencapai tujuan bersama.
4.      Adaya tujuan yang diperjuangkan melalui serangkaian tindakan.[2]
            Dari keempat unsur tersebut,ketika kepemimpinan terjadi di suatu sekolah, secara formal kepala sekolah dianggap sebagai pemimpin, sedangkan guru-guru dan karyawan-karyawan berkedudukan dibawah kepala sekolah. Semua personil ini melibatkan diri dalam ikatan organisasi sekolah untuk bekerjasama untuk mecapai tujuan-tujuan sekolah mereka.
            Sekolah merupakan lembaga pendidikan. Pendidikan pada umumnya adalah usaha atau proses yang dilakukan secara sadar oleh orang dewasa untuk mendidik anak didik agar mereka mendapat kedewasaan. Sehubung dengan hal itu kalau dirangkai antara pengertian kepemimpinan dan pendidikan akan diperoleh penegrtian kepemimpinan pendidikan.
            Kepemimpinan pendidikan adalah merupakan suatu kesiapan, kemampuan, yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain yang adahubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran, agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efekti dan efisien yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan pendidikan danpengajaran yang telah ditentukan.[3]
B.     Tujuan, Fungsi dan Tugas Kepemimpinan Pendidikan.
Antara  tujuan dan fungsi-fungsi kepemimpinan merupakan hal yang sulit dibedakan. Karena keduanya sama-sama mempunyai maksud untuk menyukseskan proses kepemimpinan.
Tujuan kepemimpinan merupakan kerangka ideal/ filosofis yang dapat memberikan pedoman bagi setiap kegiatan pemimpin, sekaligus menjadi Patokan yang harus dicapai. Untuk mencapai tujuan terseubut makan pemimpin harus melakukan fungsi-fungsi kepemimpinan.
Bernard menyebutkan fungsi-fungsi kepemimpinan antara lain:
1.      Menentukan sasaran/ tujuan
2.      Memanipulasi cara
3.      Perubahan tindakan
4.      Merangsang usaha-usaha yang terkoordinasi.[4]
Setelah dijelaskan mengenai tujuan dan fungsi dari kepemimpinan pendidikan, maka akan dijelaskan mengenai tugas kepemimpinan antara lain:

1.      Penetapan Tujuan/Sasaran.
Tujuan yang hendak dicapai, memegang peranan yang sangat penting karena tujuan merupakan pedoman dalam menentukan langkah-langkah yang akan ditentukan.
Tujuan atau sasaran harus jelas dalam arti mungkin dicapai dengan perumusan tujuan yang operasional. Dalam perumusan tujuan jangan terlalu luas dan samar-samar karena sulit dicapai.
2.      Menyusun Rencana Kerja.
Rencana kerja adalah hasil keputusan dalam menentukan hal-hal yang akan dikerjakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan dalam bidang pendidikan berarti penyususnan keputusan tentang hal-hal yang akan dikerjakan oleh pemimpin  pendidikan dan personal yang lain dalam rangka membantu anak untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
3.      Pegorganisasian dan Pendayagunaan Personel.
Setiap usaha kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tidak mungkin dilaksanakan sendiri oleh seorang pemimpin, terutama karena terbatasnya kemampuan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan yang banyak dan terbatasnya waktu serta tempat. Oleh karena itu pekerjaan yang harus diselesaikan harus dibagi-bagi termasuk bahan, alat-alat dan personal.
Dengan adanya pengorganisasian  berarti pekerjaan dapat diatur dengan sebaik-baiknya waktu yang ditetapkan dapat digunakan dengan efektif sehingga pekerjaan dapat diselesaikan tepat seperti yang direncanakan dan diharapkan. Sehingga setiap orang tidak terlampau berat untuk memikul pekerjaan dan dapat mengerjakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan bertanggungjawab atas pekerjaannya.[5]
C.     Syarat-Syarat Kepemimpinan
Setiap orang yang diangkat menjadi pemimpin didasarkan pada kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dari pada orang-orng yang dipimpinnya. Untuk menjadi pemimpin diperluan adanya syarat-syarat serta sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Beberapa syarat kepemimpinan dalam pendidikan yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian, antara lain:
1.      Rendah hati dan sederhana.
Seorang pemimpin pendidikan hendaknya jangan mempunyai sifat sombong atau merasa lebih mengetahui dari yang lain. Kelebihan pengetahuan yang dimiliki hendaknya dipergunakan untuk membantu yang lain, bukan untuk dipamerkan dan dijadikan kebanggaan.[6]
2.      Bersifat suka menolong
Pemimpin hendaknya selalu siap sedia untuk membantu serta menolong anggotanya tanpa diminta. Selain itu pemimpin juga hendaknya meluangkan waktu untuk mendengarkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh anggotanya akan apa yang dihadapi mengenai tugasnya. Sehingga dapat memberikan solusi atau pemecahan, bila tidak dapat memberikan solusi sendiri, pempin juga dapat memusyawarahkan bersama agar memperoleh solusi.
3.      Sabar dan memiliki kestabilan emosi
Seorang pemimpin pendidikan hendaknya memiliki sifat sabar. Jangan mudah kecewa dan memperlihatkan kekecewaannya dalam menghadapi sebuah kegagalan atau kesukaran ataupun sebaliknya  jangan mudah bangga dan sombong jika kelompokya berhasil. Karena hal ini akan menjjadikan anggotanya tidak merasa dipaksa atau tidak selalu dikejar-kejar dalam menjalankan tugasnya.
4.      Percaya pada diri sendiri
5.      Jujur,adil dan dapat dipercaya
6.      Keahlian dalam jabatan
Keahlian yang dimaksud disini yakni keahlian dalam bidang pekerjaa yang dipimpinnya. Keahlian jabatan merupakan syarat utama dalam kepemimpinan. Tanpa sebuah keahlian tak mungkin menjadi pemimpin. Akan tetapi jangan dikatakan hanya dengan keahlian jabatan orang dapat menjadi pemimpin.
Keahlian jabatan tidak hanya kecakapan dalam melaksanakan pekerjaan, melainkan juga pengalaman dan penguasaan semua macam pengetahuan yang diperlukan serta dibutuhkan  untuk memperoleh dan menambah kecakapan.
D.    Teknik Kepemimpinan Pendidikan
1.      Gaya kepemimpinan
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengetahui kesuksesan pemimpin ialah mempelajari gayanya, yang akan melahirkan berbagai tipe kepemimpinan antara lain:
a.       Gaya kepemimpinan Otokratis
Pemimpin yang otokrasi mempunyai atau memegang kekuasaan mutlak. Otokrasi bisa disebut dengan otoriter. Pemimpin dengan gaya otoriter ini lebih mementingkan tugas dan pendapatnya sendiri dalam setiap pengambilan keputusan atau kebijakan. Bawahan tidak pernah diberi kesempatan untuk memberikan masukan, ide, dan saran sehingga segalanya berada pada diri pemimpin tersebut.
Kepemimpinan yang otoriter ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1)      Wewenang mutlak terpusat pada pemimpin.
2)      Keputusan selalu dibuat oleh pemimpin.
3)      Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pemimpin.
4)      Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan.
5)      Pengawasan terhadap sikap, tingkah-laku, perbuatan, atau kegiatan para bawahannya dilakukan secara ketat.
6)      Prakarsa harus selalu datang dari pimpinan.
7)      Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan, atau pendapat.
8)      Tugas-tugas bagi bawahan diberikan secara instruktif.
9)      Lebih banyak kritik daripada pujian.
10)  Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa syarat.
11)  Pimpinan menuntut kesetiaan mutlak tanpa syarat.
12)  Cenderung adanya paksaan, ancaman, dan hukuman.
13)  Kasar dalam bertindak.
14)  Kaku dalam bersikap.
15)  Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pimpinan.[7]
Dalam kepemimpinan  otoriter wewenang sepenuhnya berada pada pemimpin. Orang yang dipimpn sebagai mesin yang berfungsi menerima dan melaksanakan tugas dan kebijaksanaan yang telah digariskan. Penilaian yang dilakukan sangat subjektif karena yang dpaain adalah kriteria pribadinya.
Banyak akibat negative jika kepemimpinan toriter diterapkan, diantaranya:
1)      Perasaan takut dan ketegangan selal terdapat pada orang-orang yang  dipimpin karena selalu dibayangi oleh ancaman dan hukuman.
2)      Akibat rasa takut maka orang-orang yang dipimpin tidak berani mengambil inisiatif dan keputusan maka kreatif akan tidak pernah tersalurkan da berkembang.
3)      Timbul sikap apatis, menunggu perintah baru bekerja.
4)      Kegiatan yang berlangsung adalah kegiatan teknis dan rutin, sifatnya statis karena mengulangi sesuatu dianggap sudah benar.[8]
b.    Gaya kepemimpinan Laisserz Faire.
Pada kepemimpinan Laisserz Faire pemimpin memberikan kebebasan yang seluas-luasnya  kepada setiaporang yang dipimpin. Mereka mengambil keputusan-keputusan menetapkan prosedur dan aktivitas kerja. Semua kebijaksanaan, metode dan sebagainya menjadi hak sepenuhnya dari orang yang dipimpin.
Seluruh kegiatan yang berlangsung tanpa doronga, bimbingan dan  pengarahan dari pemimpin. Pimpinan menganggap semua itu adalah hak mereka, ia seolah-olah berada diluar organisasi tersebut. Pemimpin turun tangan ketika stafnya atau orang yang dipimpin memintanya.[9]

Gaya kepemimpinan Laisserz Faire memiliki ciri-ciri antara lain:
1.      Pimpinan melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan.
2.      Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan.
3.      Kebijakan lebih banyak dibuat oleh para bawahan.
4.      Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan.
5.      Hampir tiada pengawasan terhadap sikap, tingkah-laku, perbuatan dan kegiataan yang dilakukan para bawahan.
6.      Hampir tiada pengarahan dari pimpian.
7.      Prakarsa selalu datang dari bawahan.
8.      Peranan pimpinan sangat sedikit lebih utama dari kepentingan kelompok. Kepentingan pribadi lebih utama dari kepentingan kelompok.
9.      Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh perorang.
Gaya kepemimpinan Laisserz Faire merupakan kebalikan dari gaya kepemiminan Otokrasi. Kepemimpinan Laisserz Faire meberikan keuntungan bagi yag dipimpin karena dengan gaya kepemimpinana ini mereka mampu mengembangkan kemampuan pribadinya.[10]
Gaya kepemimpinan ini mempunyai akibat negative diantaranya adalah:
1.      Timbulnya kekacauan dalam pelaksanaan tugas.
2.      Timbulnya kesimpangsiuran kerja dan wewenang.
3.      Banyak ide-ide yang tidak terlaksana.
4.      Hasil kerja sulit dicapai secara maksimal.[11]
c.    Gaya kepemimpinan Demokratis
Berbeda dengan gara otokrasi dan Laissez Faire, kepemimpinan demokratis atau partisipatif mempertimbangkan keinginan-keinginan dan saran-saran dari para anggota  maupun  pemimpin.[12] Dalam gaya kepemimpinan ini dalam menetapkan suatu kebijaksanaan diputuskan secara bersama-sama antara pemimpin dan anggotanya.
Apa yang telah diputuskan bersama suatu saat dapat diubah selagi hal itu mendukung tercaainya tujuan yang telah ditetapkan. Pemimpin yang menerapkan pola kepemimpinan demokratis adalah seorang yang mau duduk bersama untuk bermusyawarah. Bahkan, pada saat pemimpin itu mengambil kebijakan ternyata salah atau dalam memberikan suatu perintah ternyata menyinggung perasaan yang tidak enak (sehingga bawahan itu marah), maka pemimpin demokratis itu mau memberi maaf bahkan mau memohonkan ampun kepada Allah. Hal ini adalah sifat dan sikap pemimpin yang baik dan terpuji bukan saja di hadapan bawahannya, tetapi juga mulia di hadapan Allah SWT.
Gaya kepemimpinan demokrasi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Wewenang pimpinan tidak mutlak.
2.      Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan.
3.      Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dengan bawahan.
4.      Kebijaksanaan dibuat bersama antara pimpinan dengan bawahan.
5.      Komunikasi berlangsung timbal-balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun antara sesama bawahan.
6.      Pengawasan terhadap sikap, tingkah-laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar.
7.      Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan.
8.      Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan saran, pertimbangan, dan pendapat.
9.      Tugas-tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan daripada instruktif.
10.  Pujian dan kritik seimbang.
11.  Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam batas kemampuan masingmasing.
12.  Pimpinan meminta kesetiaan para bawahan secara wajar.
13.  Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan bertindak.
14.  Terdapat suasana saling percaya, saling hormat menghormati, dan saling menghargai.
15.  Tangungjawab keberhasilan organisasi dipikul bersama pimpinan dan bawahan.[13]




BAB III
PENUTUP

            Kesimpulan
            Kepemimpinan merupakan hala yang penting dan harus ada dalam organisasi. Begitu juga dalam pendidikan, kepemimpinan merupakan yang harus ada agar dalam proses mencapai tujuan agar dapat tercapai. Kepemimpinan dalam pendidikan adalah merupakan suatu kesiapan, kemampuan, yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran, agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efekti dan efisien yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan pendidikan danpengajaran yang telah ditentukan.
            Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik diperlukan adanya syarat-syarat menjadi pemimpin antara lain:
1.      Rendah hati dan sederhana
2.      Suka menolong
3.      Sabar dan memiliki kestabilan emosi
4.      Percaya pada diri sendiri
5.      Jujur, adil dan dapat dipercaya
6.      Keahlian dalam jabatan
Setiap pemimpin dalam menjalankan tugasnya mempin suatu organisasi memiliki gaya kepemimpinan sendiri-sendiri. Gaya  kepemimpinan yang dimaksud diantaranya:
1.      Gaya kepemimpinan otokrasi.
2.      Gaya kepemimpinan Laissez Fire.
3.      Gaya kepemimpinan Demokrasi.





           
DAFTAR PUSTAKA

Asmara, U Husna, 1985,Pengantar Kepemimpinan Pendidikan,Jakarta: Ghalia Indonesia.
Purwnto, M.Ngalim dan Djopranoto, Sutaadji,1979, Adminstrasi Pendidikan, Jakarta:Mutiara.
Burhanuddi, 1994,Anslisis Administrasi Manajeme dan Kepemimpinan Kependidikan, Jakarta:Bumi Aksara.
Sutisna ,Oteng,1983,Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional,Bandung: Angkasa.
Muflihin,Muh. Hizbul, http:// hinsaniaku.files.wordpress.com/2009/03/6-kepemimpinan-pendidikan muflihin.pdf diakses pada tanggal 23/04/2012, pukul 4:00 pm




[1] M.Ngalim Purwnto dan Sutaadji Djopranoto, Adminstrasi Pendidikan, (Jakarta:Mutiara,1979).halm.33
[2] Burhanuddi, Anslisis Administrasi Manajeme dan Kepemimpinan Kependidikan, (Jakarta:Bumi Aksara,1994) halm.63
[3] Ibid,hal  64-65
[4] Ibid,hal  65-66
[5] U. Husna Asmara,  Pengantar Kepemimpinan Pendidikan,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985).halm.21-26
[6] M.Ngalim Purwnto dan Sutaadji Djopranoto, Adminstrasi Pendidikan.halm.42
[7] Muh. Hizbul Muflihin,http:// hinsaniaku.files.wordpress.com/2009/03/6-kepemimpinan-pendidikan muflihin.pdf diakses pada tanggal 23/04/2012, pukul 4:00 pm
[8] U. Husna Asmara,  Pengantar Kepemimpinan Pendidikan,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985).halm.36
[9] Ibid,halm.36
[11] U. Husna Asmara,  Pengantar Kepemimpinan Pendidikan.halm.37
[12] Oteng Sutisna,Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional,(Bandung: Angkasa,1983).halm.265
Baca artikel ini...

0 komentar: