PENDIDIKAN DAN MORALITAS
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengmpu: Drs. Nur Hamidi MA





Disusun Oleh:
Muhammad Iqbal Fahmi
Ikhwan Muttaqin
Khoerotun Ni’mah
Alfiyatus Sodiqoh
Anji Fathunaja

V / PAI


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan adalah  hal yang sangat penting bagi kehidupa bangsa dan Negara. Karena hal itu maka hampir seluruh Negara sagat memperhatikan masalah pendidikan. Kita ketahui bahwa salah satu tujuan dari pendidikan islam adalah pembentukan moral yang tinggi. Karena hal itu maka pendidikan akan moral bagi warga Negara merupakan salah satu aspek yang harus ditingkatkan.
Masalah moral merupakan masalah yang sangat penting sehingga ketika menyangkut maslah moral seluruh Negara akan memberikan perhatian kepadanya, karena kemajuan suatu Negara salah satunya dari moral bangsanya. Ketika warganya mempunyai moral yang tinggi maka dapat dikatakan Negara itu adalah Negara yang maju dan ketia warganya mempunyai moral yang tinggi  maka Negara itu adalah Negara yang terpuruk.
Jika kita lihat moral warga Negara kita yaitu Indonesia Telah menjadi rahasia umum bahwa moral warga Negara kita ini telah mengalami keterpurukan khususnya moral anak muda yang notabene adalah pelajar. Kita ketahui bahwa keterpurukan moralitas penyebabnya adalah ketidak berhasilan pendidikan di Indonesia. Banyak hal yang diajarkan dalam pendidikan hanya sebagai sebuah wacana tanpa banyak menyentuh ranah psikomotor dan afeksi. Tidak lain kadang pendidikan Indonesia minus akan adanya keteladanan bagi para pelajar.
Dengan demikian pendidikan mempunyai peranan terhadap moralitas warga. Karena hal itu mka makalah ini akan membahas tentang pendidikan dan moral secara rinci dan mendetail.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pendidikan
1.      Pengertian Pendidikan
Secara etimologi pendidikan berasal dari bahasa yunani yaitu pedagogie  yang terdiri dari kata “pais” artinya anak dan again diterjemahkan membimbing, jadi pedagogie adalah bimbingan yang diberikan kepada anak.
Secara terminology Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.[1]
      Secara definitive pendidikan (pedagogie) diartikan oleh para tokoh pendidikan sebagai berikut:
a.       John Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia
b.      Langeveld
Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam usaha membimbingnnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang disadari dan dilaksanakan dengan sengaja antara orang dewasa dengan anak/ yang belum dewasa.
c.       Hoogeveld
Mendidik adalah membantu anak supaya ia cukup cakap meyelenggarakan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendiri.
d.      SA.Bratanata dkk.
Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaannya.
e.       Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.
f.       Ki Hajar Dewantara
Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka menjadi manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
g.      GBHAN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.[2]
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang disengaja, sistematis, berkelanjutan, penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak menacapai kedewasaan  yang dicita-citakan.
2.      Tujuan pendidikan menurut Langeveld
a.       Tujuan umum
Tujuan umum pendidikan adalah kedewasaan anak didik, hal ini berarti bahwa semua aktifitas pendidikan seharusnya diarahkan kesana, demi tercapainya tujuan umum tersebut. Nama lain dari tujuan umum ini adalah tujuan lengkap dan tujuan total.
b.      Tujuan khusus
Tujuan khusus adalah tujuan pendidkan yang telah disesuaikan dngan keadaan-keadaan tertentu, dalam rangka untuk mencapai tuuan umum pendidikan.
c.       Tujuan tak lengkap
Ini adalah tujuan yang berkaitan dengan kepribadian manusia dari satu aspek saja, yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup tertentu. Misalnya kesusilaan, keagamaan, keindahan, kemasyarakatan, pengetahuan, dan sebagainya. Dari masing-masing aspek iu mendapat giliran penanganan dalam pendidikan, atau maju bersama-sama secara terpisah.
d.      Tujuan sementara
Tujuan sementara ini adalah titik-titk perhatian sementara, yang kesemuanya itu sebagai persiapan, untuk menuju kepada tujuan umum tersebut, misalnya : membiasakan anak suka bersih, tidak membuang air kecil disembarang tempat, membiasakan anak bicara sopan, dan sebagainya.
e.       Tujuan insidental
Tujuan ini sesungguhnya adalah tujuan yang terpisah dari tjuan umum, tetapi kadang-kadang mengambil bagian dalam menuju ke tujuan umum. Misalnya, anak kadang-kadang kita ajak makan bersama-sama (karena merasa perlu), tetapi lain kali tidak. Anak kadang-kadang kita marahi (karena melakukan kesalahan), tetapi lain kali tidak demikian, dan sebagainya.
f.       Tujuan intermedier
Tujuan ini adalah tujuan yang berkaitan dengan penguasaan sesuatu pengetahuan atau ketrampilan demi tercapainya tujuan sementara. Misalnya, anak belajar membaca, menulis, matematika, berhitung, dan sebagainya.[3]
3.      Tujuan pendidikan islam menurut para ahli
Ada beberapa pendapat dalam menetapkan tujuan pendidikan islam. Berikut ini beberapa nukilan tentag tujuan pendidikan islam dari beberapa ahli, yaitu :
1)      Prof. Dr. M. Athiyah al-Abrasyi
“Pembentukan moral yang tinggi adalah tujuan utama dalam pendidikan islam”.[4]
Sebelumnya beliau menyatakan :
            “pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan islam, dan islam telah menyimpulkan  bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan islam. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Tapi ini tidak berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani, akal, ilmu, atau segi-segi praktis lainnnya. Tetapi artinya ialah bahwa kita memperhatikan segi-segi pendidikan akhlak seperti juga segi-segi lainnya itu”.4
2)      Drs. Abd. Rahman Sholeh.
Tujuan pendidikan agama islam ialah memberikan bantuan kepada manusia yang belum dewasa, supaya cakap menyelesaikan tugas hidupnya yang diridhai Allah SWT. Sehingga terjalinlah kebahagiaan dunia akhirat atas kuasanya sendiri.
3)      Drs. Ahmad D. Marimba.
Tujuan terakhir pendidikan islam adalah terbentuknya kepribadian muslim.[5]
Dimaksud dengan kepribadian muslim menurut Drs. Ahmad D. Marimba adalah sebagai beikut :
“Kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunujukkan pengabdian kepada Tuhan, penyerahan diri kepada-Nya”.[6]
B.     Moralitas
Secara etimologi istilah moral berasal dari bahasa Latin mos, moris (adat, istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku, kelakuan) mores (adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak [7]. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai keadaan baik dan buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti dan susila. Moral juga berarti kondisi mental yang terungkap dalam bentuk perbuatan. Selain itu moral berarti sebagai ajaran Kesusilaan. Kata morla sendiri berasal dari bahasa Latin “mores” yang berarti tata cara dalam kehidupan, adat istiadat dan kebiasaan.
Sikap moral yang sebenarnya disebut moralitas. Moralitas adalah kualitas perbuatan manusia yang menunjukan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencangkup pengertian tentang baik dan buruknya perbuatan manusia. Moralitas dapat objektif dan subjektif , moralitas objektif adalah memandang perbuatan semata sebagai suatu  perbuatan yang telah dikerjakan, bebas dari pengaruh-pengaruh suka rela dari pelaku. Sedangkan moralitas subjektif adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai perbuatan yang dipengaruhi pengertian dan persetujuan sipelaku sebagai individu.
Selain moralitas itu objektif dan subjektif moralitas juga dapat intrinsic dan ekstrinsik. Moralitas intrinsic memandang suatu perbuatan menurut hakikatnya bebas lepas dari setiap bentuk hukuman positif, yang dipandang adalah apakah perbuatan baik atau buruk padda hakikatnya bukan apakah seorang telah memerintahkannya atau telah melarangnya. Sedagkan moralitas ekstrinsik adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai sesuatu yang diperintahkan atau dilarang oleh seseorang yang berkuasa oleh hokum positif baik dari manusia asalnya maupun dari tuhan.[8]
Perilaku moral bisa ditentukan melalui tiga tahap perkembangan. Pertama, adanya rasa tekanan dari pihak luar, misalnya entah dari tekanan sosial atau atau hokum ilahi. Kedua, adanya tekanan dari luar  tersebut membuat seorang individu memiliki sikap tunduk terhadap otoritas di luar dirinya (perilaku bermoral yang berrmutu). Ketiga, afirmasi diri ( seorang individu memiliki kebebasan untuk menentukan keputusan moral bagi dirinya sendiri sehingga ia mampu memaknai tndakannya secara bebas, tidak terpengaruh oleh intimidasi di luar dirinya atau terpaksa melakukan karena telah ditentukan oleh hukum ilahi.[9]
Masalah moralitas  sangat diperlukan dalam setiap pengambilan keputusan dan tindakan kita. Tanpa moralitas tanpa ikatan norma-norma etika yang universal, tanpa suatu global standar, bangsa akan semakin terjerumus ke dalam berbagai krisis dan bencana. Kita membutuhkan refleksi etis menyangkut sikap dasar moral umat manusia, ita membutuhan suatu system etika, suatu pandangan tentang nilai dan norma dasar yang menuntun seluruh keputusan dan tindakan kita. Dalam hal ini agama sangat menentukan, paling tidak sebagai kekuatan moral dalam setiap  proses pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan. Kehadiran agama diharapkan mampu memberikan sumbangsih dalam hal pengkajian, perumusan dan pengembangan suatu etika global.
C.     Hubungan pendidikan  terhadap moralitas
Berawal dari tujuan pendidikan maka dapat dikatakan bahwa moralitas bangsa adalah tanggung jawab dari pendidikan. Membangun moralitas individu tidak hanya penting untuk kesuksesan hidup individu, tetapi juga penting untuk mebangun manusia dan peradaban yang luhur. Kedudukan individu dalam masyarakat  bagaikan batu bata, sedangkan bangunan masyarakat merupakan susunan batu bata itu. Jika kita ingin menyusun masyarakat yang baik, maka kita harus menyusun individu-individu yang baik pula.
Begitu pula dalam membentuk masyarakat yang baik, tidak mungkin dapat tersusun jika terdiri dari individu-individu yang tidak bermoral atau terdiri dari orang-orang yang baik dan yang jahat secara bersamaan.
Masyarakat yang terdiri dari orang yang bersikap baik dan orang yang bersikap buruk akan memunculkan gejolak antara yang baik dan yang buruk atau antara kebaikan dan kejahatan. Jika jumlah yang baik semakin bertambah dibandingkan jumlah orang yang jahat, maka kebaikan akan bertambah dan kejahatan  pun berkurang.dari sinilah nilai-nilai luhur kebahagiaan akan bertambah dan nilai-nilai negative yang membawa bencana dalam masyarakat akan berkurang.
Jika individu-individu yang aa itu rusak maka pondasi bangunan masyarakat akan rusak.  Bila keadaan seperti itu, untuk membangun masyarakatmadani atau perdaban kemanusiaan yang baik maka harus dimulai dari perbaikan masyarakat dengan memperbaiki individu terlebih dahulu. Ini  dilakukan dengan jalan membentuk manusia yang baik,baik pada diri sendiri maupun pada diri orang lain.
Langkah ni dapat terwujud  dengan pembelajaran dan pendidikan yang baik: mengajarkan perilaku yang baik dan kkurang baik, dan bagaimana batasan antara keduanya. Langkah ini akan membentuk roh kebaikan dan melepaskan roh keburukan dari dirinya. [10]
Pada individu itu sejak dini ditumbukan dan dididik tentang kebaikan, sehingga kebaikan itu berakar pada dirinya. Pemberian ilmu pengetahuan tanpa adanya pendidikan akhlak, tidak akan menjadikan individu itu baik. Padahal ilmu ibarat pedang bermata dua jika ia ditangan orang yang baik, maka ia akan digunakan untuk kebaikan dan ketika ia berada pada orag yang jahat maka ia akan digunakan untuk kejahatan. Oleh sebab itu kita harus berusaha sejak awal agar jangan sampai meletakkan pedang kecuali pada orang yang baik.
 Karena hal maka pendidikan mempunyai peran yang sangat tinggi dalam membentuk moralitas bangsa, sehingga menjadikan adanya pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan sebuah usaha  dari manusia yang dilakukan secara otonom untuk mendefinisikan dirinya sendiri sebagai orang yanag baik melalui keputusan dan perilakunya yang dilakukan secara bebas.
Pendidikan moral seringkali  dihubungan dengan pendidikan karakter, akan tetapi keduanya memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah karena menempatkan nilai-nilai kebebasan sebagai bagian dari kinerja individu untuk menyempurnakan dirinya sendiri berdasarkan tata nilai moral yang semakin mendalam dan bermutu. Yang membedakan antara pendidikan moral dan pendidikan karakter adalah ruang lingkup dan lingkungan yang membantu individu dalam mengambil kepeutusan. Dalam pendidikan moral, runag lingkupnya adalah kondisi batin seseorang, inilah yang akan menentukan apakah ia sebagai manusia yang baik atau buruk. Pendidikan moral berkaitan dengan keputusan bebas seseorang sesuai dengan kesadaran nuraninya. Komunitas bisa saja menelikung perilaku individu, tapi kebebasan tetap berada dalam tanggung jawabnya, jika ingin disebuut sebagai individu yang bermoral. Sedangkan pendidikan karakter, ruang lingkup terdapat pada diri individu, namun keputusan dalam lembaga pendidikan melibatkan struktur dan relasi kekuasaan. Pendidikan karakter selain bertujuan menegakan martabat pribadu sebagai individu, juga memiliki konsekuensi kelembagaan, yang kputusannya tampil dalam kinerja dan kebijakan lembaga pendidikan.  Pendidikan moral tanggung jawabnya bersifat personal dan seringkali memiliki dimensi komniter, sedangkan pendidikan karakter tanggung jawabnya bersifat individual, juga memiliki dimensi sosial dan komunitas. Individu dalam lembaga pendidikan memiliki tanggug jawab untuk menciptakan sebuah lingkungan moral yang mendukung pertumbuhan individu yang menjadi anggotanya.[11]
D.    Urgensi Moral dalam membentuk peradaban
            Membangun subuah peradaban dan kebudayaan akan melestarikan atau mengharmoniskan masyarakat itu sendiri. Namun individu-individu penyusunnya tidak akan mampu mewujudkan semua kebudayaan itu, tanpa diimbangi pendidikan. Disini pendidikan bernilai mutlak dan diperlukan dala rangka untuk:
1.      Meingkatkan kualitas manusia dari tidak beradab menuju manusia dan masyarakat yang beradab
2.      Membangun peradaban
3.      Mentransfer kemajuan peradaban dari satu generasi kegenerasi berikutnya.
Dengan Melalui pendidikan, kita akan membentuk masyarakat manusia yang sebaik baiknya yang  bergerak kearah perbaikan masing-masing individu. [12]























BAB III
PENUTUP
kesimpulan
Pendidikan adalah usaha sadar yang disengaja, sistematis, berkelanjutan, penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak menacapai tujuan yang dicita-citakan. Tujuan pendidikan menurut Langeveld dibagi menjadi Tujuan umum, Tujuan khusus,Tujuan tak lengkap,Tujuan sementara,Tujuan incidental dan Tujuan intermedier.
Sikap moral yang sebenarnya disebut moralitas. Moralitas adalah kualitas perbuatan manusia yang menunjukan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencangkup pengertian tentang baik dan buruknya perbuatan manusia. Moratitas dapat objektif dan subjektif dan juga dapat intrinsic dan ekstrinsik.
Pendidikan mempunyai hubungan dengan moralitas yaitu pendidikan mempunyai tanggung jawab dalam pembentukan moralitas. Moralitas dibentuk oleh pendidikan. Karena moralitas merupakan hal yang penting sehingga pendidikan mempunyai peran terhadap moralitas individu.















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu  dan Nur Uhbiyati. 2007.cetakan ke 2.Ilmu Pendidikan,Jakarta:PT Rineka Cipta.
Al-Abrasyi, M. Athiyah. 1970.Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam.Jakarta: Bulan Bintang.
Dalmanto. 1959. Pengantar teori mendidik. Bandung: Pendidikan massa.
Koesoma A, Doni. 2007. Pendidikan Karakter.Jakarta: PT.Grasindo.
Lorens,Bagus. 1996.Kamus Filsafat,jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Marimba ,Ahmad D. 1974. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam.Bandung: Al- Ma’arif.
Yaljan, Miqdad . penerjemah Tulus Mustofa. 2004. Cetakan ke 3.Kecerdasan Moral:aspek pendidikan yang terlupakan. Yogyakarta: Pustaka Fahima.
Zahara Idris.1984 Dasar-dasar kependidikan, Bandung: Angkasa.




1Prof. Zahara Idris MA, Dasar-dasar kependidikan, Angkasa, Bandung, 1984. Hal 9-10
[2] Abu Ahmadi  da Nur Uhbiyati,Ilmu Pendidikan,(Jakarta:PT Rineka Cipta, 2007 cetakan ke 2) halm. 68-69
[3] Dalmanto , Pengantar teori mendidik,  (Bandung: Pendidikan massa,1959,) halm 47-49.
[4] M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Alih Bahasa oleh Prof. H. Bustami A. Gani dan  Djohar Bahry, LIS, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970) halm 10.
[5] Drs. Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, ( Bandung: Al- Ma’arif 1974) halm 49.
[6] Ibid, halaman 73
[7] Bagus lorens, Kamus Filsafat, (jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm. 672
[8] W.Poespoprodjo, Filsafat Moral: kesusilaan dalam teori dan praktek (Bandung:Pustaka Grafika,1999, cetakan 1) halm.118-119
[9] Doni Koesoma A, Pendidikan Karakter (2007, Jakarta: PT.Grasindo), halm. 197
[10] Miqdad Yaljan, penerjemah Tulus Mustofa, Kecerdasan Moral:aspek pendidikan yang terlupakan. (Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2004, cetakan ke 3) halm.35-36
[11] Doni Koesoma A, Pendidikan Karakter halm. 198
[12] Miqdad Yaljan, penerjemah Tulus Mustofa, Kecerdasan Moral:aspek pendidikan yang terlupakan. Halm.99
Baca artikel ini...

0 komentar: